Fakta Di Balik Meruginya Bank Neo Commerce Hingga Bagaimana Nasibnya Ke Depan

  • Whatsapp
Fakta Di Balik Meruginya Bank Neo Commerce Hingga Bagaimana Nasibnya Ke Depan

PT Bank Neo Commerce (BNC) Tbk rugi mencapai Rp 132 miliar di semester I 2021. Namun, kerugian tersebut dianggap oleh Direktur Utama BNC Tjandra Gunawan sebagai langkah yang harus dilalui oleh perusahaan.

“Saya melihat kerugian yang kami derita ini bukan suatu kerugian yang tanpa sebab,” kata Tjandra saat konferensi pers secara virtual, Senin (6/9). Tjandra menyebut salah satu penyebab kerugian karena adanya kenaikan biaya operasional. Hal tersebut imbas adanya investasi yang memang harus dilakukan saat bertransformasi ke arah digital.
Tjandra menjelaskan setelah mendapatkan kerugian itu, pihaknya sudah memikirkan cara agar bisa kinerja keuangan bisa maksimal. “Nah dalam hal ini ke semester kedua kami melakukan apa yang namanya setiap spending kami, kami melakukan peninjauan yang cermat dan proyeksi jangka panjangnya,” ujar Tjandra.
Tjandra mengakui dalam menjalankan digital bisnis ini pihaknya tidak bisa langsung moncer karena saat ini memang masih di tahap investasi. Ia mengibaratkan investasi dalam dunia pertanian berarti sedang menanam.
Tjandra menilai kinerja hingga semester I 2021 ini masih wajar. Seluruh pengeluaran dari perusahaan, kata dia, selalu berdasarkan penilaian dan peninjauan yang cermat serta proyeksi jangka panjang yang matang.
Dalam laporan keuangan semester I, BNC tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp3,8 triliun per posisi Juni 2021 atau meningkat lebih dari 30% dibandingkan Juni 2020 yang sebesar Rp2,9 triliun. Peningkatan ini berimbas pada kenaikan pendapatan bunga bersih  net interest income  sebesar 42%  atau setara dengan Rp40 miliar, dari Rp 96 miliar di periode Juni 2020 menjadi Rp 136 miliar di Juni 2021.
Di sisi aset juga terdapat kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 75% menjadi Rp7 triliun di Juni 2021 dari Rp4 triliun di Juni 2020 . Kenaikan di sisi aset tersebut juga dimotori oleh kenaikan signifikan sebesar 70%  menjadi Rp 5,1 triliun pada Juni 2021 dari perolehan di Juni 2020 yang sebesar Rp 3 triliun.

Di sisi kualitas kredit, per Juni tahun ini rasio kredit bermasalah terhadap total kredit (Non Performing Loan/NPL) bank mengalami kenaikan di Juni 2021 menjadi 3,42% dari posisi Juni 2020 yang sebesar 2,75 %. Rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) mencapai 74,46 %, atau menurun dari posisi 97,94 % pada Juni 2020 lalu. Hingga kini sudah lebih dari enam juta pengguna yang merasakan layanan bank digital BNC.

Ditinjau dari kualitas kredit, total kredit macet BBYB mengalami peningkatan dari Rp133,08 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp162,28 triliun pada semester I-2021.

Maka, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net BBYB parkir di level 4,2%. Adapun NPL gross BBYB per semester I-2021 ini mencapai 11%.

Nilai NPL yang tinggi ini tidak lepas dari upaya restrukturisasi yang masih dihadapi BBYB. Jumlah kredit yang telah direstrukturisasi dan dalam kategori kredit bermasalah per 30 Juni 2021 mencapai Rp17.922.826.158.

Sementara itu, nominal kredit yang mendapat perpanjangan jangka waktu dan penurunan suku bunga kredit di BBYB pada semester I-2021 mencapai Rp280,15 miliar. Adapun Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Bank Beo Commerce per Juni 2021 mencapai Rp97,47 miliar.

Di sisi lain, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BBYB meroket 38,55% ytd menjadi Rp4,60 triliun. Secara kumulatif, aset BBYB hingga semester I-2021 ini pun terungkit dari Rp5,42 triliun pada posisi akhir 2020 menjadi Rp,699 triliun pada semester I-2021.

Rupanya, peningkatan aset ini juga dibarengi dengan pertumbuhan pada pos liabilitas. Total liabilitas BBYB naik 33% ytd dari Rp4,30 triliun pada akhr 2020 menjadi Rp5,75 triliun pada semester I-2021.

Peningkatan signifikan juga dicatatkan pada pos kas dan setara kas. Jumlah kas dan setara kas di BBYB melesat 123,3% year on year (yoy) dari Rp331,93 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp741,24 miliar pada semester I-2021.

Meski mengalami penguatan pada aspek aset, BBYB rupanya harus menelan kerugian pada semester I-2021. Emiten bersandi BBYB ini mengalami kerugian bersih hingga Rp132,85 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana BBYB masih meraup laba bersih Rp19,32 miliar. Kerugian yang dialami BBYB ini bersumber dari membengkaknya total beban operasional hingga 172% secara tahunan (year on year/yoy). 

Total beban operasional BBYB melesat dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021. Adapun pendapatan bunga bersih Bank Neo Commerce sebesar Rp112,75 miliar tidak dapat menutupi boncos-nya beban operasional tersebut.

Jika dirinci, pendapatan bunga bersih yang diraih Bank Neo Commerce merangkak naik 21% yoy dari Rp92,83 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp112,75 miliar pada semester I-2021. Meski ditambah pendapatan operasional sebesar Rp31,69 miliar, BBYB tidak kuasa untuk menutup pengeluaran besar dari pos beban operasional.

Capaian ini membuat laba per saham  (earning per share/EPS)  Bank Neo Commerce ikut menjadi negatif. EPS BBYB berbalik dari Rp3,59 menjadi minus Rp22,57 per lembar saham. (RCS)

Related posts

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments