Kiat Sukses Bisnis Ala Rasulullah Yang Wajib Kalian Ketahui

  • Whatsapp
Kiat Sukses Bisnis Ala Rasulullah Yang Wajib Kalian Ketahui

Sukses dalam berbisnis tentu menjadi harapan semua orang. Banyak yang berhasil meraih cita-cita tersebut, namun masih jarang yang menjalankan sesuai dengan syariat. Selaku Muslim tentu tidak perlu risau, karena bisa mencontoh bisnis ala Rasul.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Pedagang yang baik adalah yang mudah dalam membeli dan mudah pula dalam menjual” (HR Bukhari). Tak sekadar perkataan, Rasulullah SAW sendiri mengamalkan bagaimana cara berdagang yang baik. Bahkan, contoh teladan itu dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi utusan Allah SWT.

Saat usianya baru menginjak 25 tahun, Nabi Muhammad SAW telah menjadi seorang pebisnis yang sukses. Tak kurang dari 18 kali beliau melakukan ekspedisi dagang di rute dalam dan luar Hijaz. Alhasil, Muhammad muda dapat memulai rumah tangga dengan lebih mapan. Saat menikah dengan Khadijah, mas kawin yang beliau bawa sebanyak 20 ekor unta dan 12,4 ons emas murni. Mas kawin itu terbilang sangat besar, bahkan untuk ukuran zaman sekarang

Pedagang yang baik bermula dari mental mandiri dan pantang menyerah. Sejak masih anak-anak, Muhammad SAW telah hidup berdikari. Sebelum menjadi pedagang, beliau telah menggembala kambing milik orang-orang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Barulah ketika usianya 12 tahun, beliau mulai belajar berwirausaha. Dalam hal ini, peran pamamnnya, Abu Thalib, begitu besar. Ayahanda Ali (karamallahu wajhah) itu mengajak beliau ikut dalam rombongan dagang ke Suriah (Syam).

Saat usianya 17 tahun, Muhammad SAW muda semakin mahir berdagang. Tidak hanya ke Syam. Kafilah dagang yang dipimpin beliau sudah pernah berniaga di Yordania, Busra, Irak, Bahrain, dan Yaman—selain Hijaz sendiri.

Prinsip dan cara bisnis ala Rasul

1. Memahami Hukum & Ilmu Bisnis (Jual-Beli)

Hukum jual beli itu sendiri terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 275 yang artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Nah, sudah jelas bahwa Allah menghalalkan jual beli. Dalam transaksi jual beli, Anda tentu harus menguasai produk, menerapkan strategi pemasaran, dan lain sebagainya.

2. Selalu Bersikap Jujur

Prinsip bisnis ala Rasul yang paling utama ialah kejujuran. Nabi Muhammad tidak hanya jujur kepada rekan bisnisnya, tetapi juga kepada para pelanggannya. Rasulullah selalu menjelaskan apa adanya keunggulan dari barangnya dan juga kelemahan dari barangnya tersebut.

Jadi, kejujuran yang menjadi keunggulan dari bisnis Rasulullah. Sebagai pembeli, Anda tentu akan memilih pedagang yang sudah terkenal jujur, karena merasa aman dan tidak akan ditipu.

3. Sopan Santun & Menghormati Pelanggan

Rasulullah menganggap semua pelanggannya adalah saudaranya. Seperti yang dikemukakan oleh Rasulullah, ‘Sayangilah saudaramu layaknya menyayangi dirimu sendiri’. Konsumen adalah raja, selalu perlakukan konsumen Anda dengan baik, sopan santun dan selalu hormati pelanggan.

Rasulullah juga menganggap segala keuntungan yang didapat adalah hadiah dari usaha. Ketika seseorang terbantukan dengan produk yang Anda jual, itulah seharusnya inti dari bisnis ala Rasul. Kepuasaan konsumen adalah nomor satu.

4. Menepati Janji

Seperti firman Allah di QS Al Maidah ayat 1, ‘Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janjimu.’

Rasulullah dalam berdagang selalu menjaga kepercayaan pelanggan, di antaranya adalah selalu menetapi janji. Beberapa pelanggan yang meminta barang atau memesan barang selalu ditepati janjinya oleh Rasulullah.

Nabi Muhammad selalu mengedepankan tanggung jawab kepada pelanggan dan integritas yang tinggi. Barang-barang yang dipesan oleh pelanggan akan disiapkan dan dikirimkan tepat waktu oleh Rasulullah.

Inilah yang juga harus Anda lakukan, ketika sudah ada perjanjian kepada partner atau pelanggan, usahakan Anda selalu menepatinya. Walaupun perjanjian tersebut tidak ada hitam di atas putih, Anda juga harus selalu menepati janji tersebut. Ingat, kepercayaan pelanggan bertahun-tahun yang hilang akan sulit didapatkan kembali.

5. Tidak Menjelekkan Bisnis Orang Lain

‘Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain’ (HR Muttafaq)

Itulah yang dikatakan oleh Rasulullah kepada pengikutnya. Sebab, prinsip berbisnis adalah memuaskan pelanggan, bukan mematikan bisnis orang lain. Anda tidak perlu juga mengatakan bahwa bisnis si A lebih jelek dari pada bisnis Anda sendiri. Anda harus menonjolkan kualitas produk Anda, dan biarkan pelanggan yang menilai.

6. Tidak Menjual Produk Buruk

Rasulullah mengajarkan untuk memilah mana produk yang baik dan produk yang buruk. Bahkan Rasulullah tidak pernah menjual produk yang kualitasnya rendah atau tidak pantas dijual. Dengan begitu, Rasulullah dapat selalu menjaga mutu barang-barang yang dijualnya.

Di samping itu, Rasulullah selalu mengelompokkan harga barang sesuai dengan kualitasnya. Harga barang yang kualitasnya baik akan dihargai lebih mahal dibandingkan dengan kualitas yang biasa-biasa saja.

7. Tidak Menimbun Barang

Dalam Islam, menyimpan barang agar mendapatkan keuntungan di kemudian hari disebut ihtikar. Misalnya Anda mempunyai cabai, lalu Anda menyimpan cabai tersebut untuk dijual di kemudian hari karena harga cabai yang murah.

Ini tidak diperbolehkan di dalam Islam karena itu sama saja menimbun. Jika memang kondisi harga seperti itu, Anda harus menjual dengan harga apa adanya.

8. Tidak Mengganggu Ibadah

Allah tidak menyukai orang yang terlalu sibuk berdagang sehingga melupakan kewajibannya, yaitu beribadah. Kebanyakan orang berdagang atau bekerja terlalu keras sehingga lupa waktu sholat dan bahkan lupa untuk membayar zakat. Usahakan Anda selalu menyempatkan waktu untuk sholat dan membayar zakat.

9. Membayar Upah Tepat Waktu

“Berikanlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya”

Itulah yang diucapkan Rasulullah. Sebelum kering keringatnya adalah jangan menunda-nunda gaji atau upah karyawan. Ketika Anda menggaji karyawan setiap tanggal 25, usahakan selalu tepat waktu. Selain itu, pembayaran upah atau gaji harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

10. Membayar Zakat & Banyak Bersedekah

Bagi Anda para pebisnis yang aset atau hartanya sudah mencapai nisab, Anda harus mengeluarkan zakat sebagaimana seorang Muslim.

Sejatinya, pebisnis sulit menghindari hal-hal syubhat, karena manusia tak luput dari salah dan khilaf. Maka dari itu, Rasulullah memerintahkan para pebisnis untuk menebus kesalahan atau kekurangan dalam berbisnis dengan bersedekah. Selain untuk menebus kesalahan, sedekah juga dapat membuka pintu rezeki

Kunci-kunci sukses ala Nabi
Apa saja kunci kemahiran beliau? Pertama, Nabi Muhammad SAW dalam berdagang selalu menentukan terlebih dahulu segmentasi pasar. Dengan demikian, beliau dapat “membaca” permintaan pasar tentang suatu barang atau komoditas.

Yang dipelajarinya adalah kebiasaan, cara hidup dan kebutuhan sehari-hari para calon konsumen, yakni masyarakat tempatnya berdagang. Alhasil, misalnya, ketika datang ke kota A, barang-barang yang beliau bawa bisa jadi berbeda ketika beliau mendatangi kota B.

Kemudian, Nabi Muhammad SAW juga tak pernah mengecewakan pelanggan. Beliau tak membeda-bedakan pelanggan, apakah itu elite bangsawan, orang biasa, atau bahkan budak sekalipun. Menghormati pelanggan adalah poin penting untuk kelancaran bisnis.
Selanjutnya, bervisi ekspansi. Beliau dalam berdagang tak hanya berkutat pada satu atau dua pasar. Nabi SAW juga melakukan perluasan jangkauan bisnis ke banyak wilayah. Dengan begitu, reputasi dan pamor (branding) produk-produknya kian dikenal masyarakat luas.

Reputasi juga didapat dari jaminan mutu barang. Nabi Muhammad SAW selalu jujur dengan kualitas barang dagangannya, apakah itu ada kelebihan atau kekurangannya. Semua dijelaskan kepada para pelanggannya. Tidak pernah sekalipun beliau mengurangi takaran atau timbangan. Beliau juga tidak melakukan perang harga dengan sesama pedagang lainnya.

Alhasil, Muhammad SAW sebagai pedagang akhirnya menemukan self-branding. Beliau bahkan sebelum menjadi rasulullah sudah digelari masyarakat Arab sebagai al-Amin, ‘orang yang bisa dipercaya.’
Self-branding itulah yang memudahkan beliau dalam berbisnis. Malahan, tanpa modal sepeser pun, beliau dapat bekerja, yakni dengan menjualkan barang-barang dagangan milik orang lain. Dari situ, beliau mendapatkan imbalan dari proses bagi-hasil. Inilah yang dilakukannya dengan Khadijah—seorang saudagar sukses, kaya raya pula—sebelum pernikahan terjadi.

Teladani Sifatnya, Kamu Bakal Jadi Pengusaha Sukses

Dengan mencontoh sifat dan sikap Rasulullah dalam berniaga, insya Allah bisnis bisa sukses. Dan kamu akan menjadi pengusaha berjaya nan terpandang. Aamiin Ya Robbal’alamin.

Related posts

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments