Pahami ini Sebelum Buka Bisnis Bersama Teman

  • Whatsapp

“Kak Kartes yang mempesona, aku ada masalah nih! Jadi begini, aku kan ada bisnis bersama teman lama, di bidang ayam potong. Nah aku uda kirim barang, nilainya sekitar Rp 90 juta. Eh masa, uda dua bulan ini ga dibayar. Kan jadinya ga bisa ambil lagi di supplier utama, alhasil bulan ini aku ga jualan. Rugi banyak nih!”

Kisah seperti ini nyata adanya, karena seorang mamah muda, sebut saja Monic-lah yang menceritakannya. Dan kejadian seperti ini jamak terjadi di Indonesia, ditambah lagi dengan kultur kita yang “enggan” untuk memitigasi risiko dan menagih jika ada problem.

Saya sendiri pernah berbisnis bareng, ada yang lancar dan adapula yang macet. Sebenarnya lumrah, karena memang demikianlah siklus usaha.

Trus, apakah kita harus berhenti bisnis bersama teman?

No! Saya sangat mendukung Anda untuk mulai menjalankan bisnis bareng teman. Karena pada hakekatnya sudah tau karakter dari rekan Anda. Kalau kita ngomongin risiko, berbisnis bareng orang yang tidak dikenal jauh lebih berbahaya.

So, topik kita kali ini akan ngomongin tentang poin-poin apa saja yang perlu Anda perhatikan. Baik sebelum menjalankan bisnis hingga sampai usaha yang dibangun sudah mulai running, sehingga bisa mengurangi risiko yang terjadi.

Sudah Yakin Bisnis Bareng Teman?

1. Mempersiapkan Perjanjian Kerjasama, Bukan MoU

Di bagian inilah saya banyak belajar dari orang-orang hukum, karena bagi masyarakat awam macam saya, akan sangat susah membedakannya. Ternyata perjanjian kerjasama antara kedua belah pihak memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat dibanding hanya MoU semata.

Apa sih bedanya?

MoU bisa dibilang sebagai nota kesepahaman yang menggambarkan garis besar tanggung jawab masing-masing pihak, isinya terbatas pada pokok-pokok pekerjaan yang harus dilaksanakan.

Sedangkan Perjanjian Kerjasama atau yang biasa dibilang sebagai MoA (Memorandum of Agreement), memiliki isi yang jauh lebih rinci, mulai dari pekerjaan, biaya, sanksi, dan lain sebagainya. Sehingga bisa dibilang bahwa MoU merupakan landasan dari pembuatan perjanjian kerjasama.

Ketika membuat perjanjian, usahakan untuk selalu dikomunikasikan dengan ahli hukum. Pernah saya menunjukkan sebuah perjanjian kerjasama ke teman saya yang jagoan hukum, ketika kena tipu beberapa tahun silam. Tau komennya?

“Ah, ini surat perjanjian mengada-ada nih. Jelas aja dikibulin, isinya bikin dia selamat semua. Pasti yang bikinin dia surat ini, paling enggak sarjana hukum.”

Jika Anda tidak memiliki cukup uang untuk menyewa konsultan hukum, coba deh cek di whatsapp. Siapa tau ada rekan yang bisa dimintai tolong dengan harga yang bersahabat.

Apa perlu notaris?

Kalau untuk bisnis besar, saya sih “yes”.

2. Keras di awal

Dalam setiap kesempatan bertemu klien atau partner, tau kan apa yang selalu mereka minta pertama kali? Harga yang murah!

Nah pada momen itulah negosiasi bisnis terjadi, dan selalu saya tekankan di awal bahwa, “Harga atau porsi kepemilikan saya adalah xxx rupiah.”

Ingat kawan, yang dibeli partner Anda bukan hanya tenaga, keahlian, dan uang. Tetapi juga “waktu”. Priceless bro!

Memang terkesan tidak elok, tapi untuk menghindari permasalahan yang terjadi di kemudian hari, harus dipahami bahwa kepentingan-kepentingan Anda dijamin dengan layak.

Demikian pula ketika Anda mempersiapkan organisasi, yang terdiri dari sekumpulan orang. Negara ini memang demokrasi, tapi dalam bisnis selalu ada satu CEO, CFO, CMO, dan lain sebagainya yang memiliki tugas berbeda-beda. Bicara pembagian uang memang ga pernah nyaman, tapi harus dilakukan di awal.

Saya tidak mengajarkan Anda untuk matre ya! Tetapi saya menginginkan kalian untuk “menghargai diri Anda sendiri”.

3. Proses Bisnis?

Siapkan proses bisnis yang bisa 99% bisa dilaksanakan, definisikan kemungkinan permasalahan di masa depan, dan straight to the point pada solusi. Langsung di awal pembentukan bisnis Anda.

Saran saya hindari berfikir,” Yang penting dilakuin aja deh, nanti juga kita bisa temukan solusinya. Tuh banyak startup yang sukses, padahal ga pake planning.”

Iya ada banyak startup sukses sih, tapi tahu nggak berapa startup yang hancur lebur karena ga pake perencanaan yang matang?

Kalau siap berjalan tanpa rencana, maka juga harus siap untuk membakar investasi Anda.

4. Siap Ke Pengadilan

Malas banget untuk dipikirkan, tapi mau tidak mau harus berani menanamkan mindset ini. Siapa yang tahu bahwa sang partner adalah orang yang baik, atau justru Anda sendiri yang bermasalah hingga sampai dituntut!

Ketika terjadi kebuntuan kerjasama, hingga muncul problem semacam gagal bayar seperti kasus ibu Monic di atas, atau pembagian hasil yang tidak sesuai perjanjian, maka akan selalu ada dua cara penyelesaian.

Cara biadab atau cara beradab.

Ah karena kita hidup di zaman modern, saran saya selalu masuk ke zona yang beradab. Meja hijau adalah langkah terakhir yang patut ditempuh.

Meski semua orang tidak menginginkannya, selalu persiapkan diri Anda untuk kemungkinan terburuk. Rapikan dokumen mulai sekarang, dan biasakan membuat notulen setiap meeting. Dengan demikian, kronologis bisnis akan terjaga dengan baik.

5. Stop Meeting di Kantor

Tips terakhir ini bukan untuk semua ya. Depends on your style!

Sebagai karyawan negara, 97% selalu menghindari mengerjakan urusan luar pemerintahan di kantor. Enggak enak sama gaji. Bah!!

Bukan itu alasannya sahabat. . . Sebenarnya begini,

Sudah bukan jamannya lagi bekerja serius di tempat serius.

Puyeng ga sih kalau kita meeting yang butuh pemikiran inovatif, di tempat angker? Selesai sih, tapi bosen juga ngeliatnya itu-itu lagi. Om-om brewok yang kalau ngomong bikin ngantuk.

Coba deh dipindahin ke club, bukan buat meeting, soalnya ga bakal kedengeran suaranya. Buat ketemuan aja, abis itu pergi ke restoran atau cafe.

Nah di cafe ini kan suasananya rileks, Anda, partner, dan klien bisa bahagia bersama-sama. Ngeliat cewek aduhai hilir mudik kayak kopaja.

Well, nampaknya obrolan minggu ini sudah cukup ya. Semoga bermanfaat untuk Anda semua.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *